Happy Ending?



Kebanyakan dari kita yang menyukai cerita bergenre romantic baik menikmatinya melalui film maupun novel pasti suka banget dengan cerita yang berakhir bahagia. Apalagi bagi kaum cewek penggemar drama korea, pasti sebelum menonton film yang ditontonnya tentunya akan mengeluarkan pertanyaan yang sama kepada temannya yang telah menonton film tersebut dengan pertanyaan beruntun yang standar pertanyaaannya berlaku untuk seluruh kalangan penggemar film korea drama lovers dimulai dengan pertanyaan “yang maen siapa?”, dilanjutkan “bagus gak ceritanya?” masih kurang puas lagi pertanyaan pun berlanjut “happy ending kan ya?” dan jika teman kita bilang yang maen ini loh..yang maen di…bla..bla…(sambil sebutin satu-satu film yang pernah ditontonnya),  bagus koq ceritanyanya tapi gak happy ending nih. Nah biasanya setelah mendengar jawaban terakhir itu kita akan mikir lagi kira-kira tetap dilanjutkan nonton apa gak?. Bahkan ada loh yang saking penasaran dengan akhir filmnya berakhir bahagia apa gak, dia akan menonton bagian akhirnya terlebih dulu, jika akhir film itu sukses membuat dia tersenyum bahagia maka dia akan nonton film itu tapi jika tidak, dia tidak akan meneruskan untuk menonton film tersebut. Begitu pun ketika dia membeli novel, dia akan meminta petugasnya membuka salah satu penutup novel yang masih tertutup plastik, ketika sampul plastik sudah terbuka dia akan langsung membaca halaman akhirnya, jika cerita akhirnya menarik perhatiannya yang tentu saja berakhir bahagia, dia akan segera membeli buku itu.

Pernah aku bertanya padanya “kalo udah tahu akhir ceritanya kayak gimana, emang masih seru tuh baca dari awal?” dan dia akan menjawab “justru malah bikin semangat bacalah kan udah tahu akhirnya gimana?”

Hmm..iya sih…kalo kita udah tahu akhir ceritanya bahagia, kita pasti akan bersemangat untuk menonton film maupun melanjutkan untuk membaca buku.

Nah bagaimana seandainya kalo hidup kita diibaratkan seperti buku atau film yang sudah kita ketahui akhirnya? Misalnya ketika kita sedang tahap menyukai seseorang, tetapi bila kita sudah tahu akhir hubungan kita dengan orang tersebut tidak berakhir bahagia maka secara otomatis kita akan berusaha mengalihkan perasaan kita, kita tak perlu mengalami rasa kegalauan yang berkepanjangan, kita tak perlu menutup pintu hati untuk orang yang baru karena masih menyimpan rasa cinta kepada orang yang kita sukai yang tidak ditakdirkan bersama kita.

Kalau kehidupan kita semudah itu, tak akan ada lagi rasa penasaran maupun hati yang deg-degan karena menerima pesan bbm singkat dari orang yang kita sukai walaupun pesan itu hanya pesan sederhana namun mampu mencerahkan sepanjang hari kita. Takkan ada lagi rasa yang menggelitik bagai kupu-kupu yang beterbangan di perut kita yang mampu membuat kita tersenyum tanpa alasan hanya karena melihat senyumnya.

Kalau kehidupan kita semudah menonton bagian akhir film maupun langsung membaca halaman terakhir buku novel, mungkin tak ada pengarang lagu sekaligus penyanyi sekelas Glenn Fredly maupun penulis novel Dewi Lestari yang mampu  membuat kita terkagum dengan karya-karya mereka.

Lantas menurut kalian apakah cerita roman harus berakhir dengan kedua tokoh utama saling bersama? Seperti cerita Cinderlela, Snow White, Aladdin dan Jasmine?
Pasti sebagian besar dari kalian menjawab Iya. Dan memang aku pun dulu beranggapan sama. Tetapi lama kelamaan aku pun membuka pikiran dan hatiku bahwa cerita yang berakhir dengan Happy Ending tidak selalu kedua tokoh utama harus bersatu.

Baru-baru ini aku membaca novel romantis karangan Nicholas Sparks yang berjudul Best Of Me, dimana kedua tokoh utama yang bernama Dawson dan Amanda menjalin kisah cinta di masa remaja mereka, lalu karena ada permasalahan mereka pun berpisah lalu dipertemukan kembali 25 tahun kemudian karena sahabat mereka meninggal dunia. Ketika mereka bertemu banyak hal-hal yang mereka bagi tentang kehidupan mereka selama ini, mereka bernostalgia serta mengenang kembali masa-masa indah mereka, karena terbawa suasana hampir saja mereka ingin kembali menjalin kisah cinta mereka, namun kenyataannya tokoh wanita Amanda sudah menikah dan mempunyai 3 anak. Pada akhirnya Amanda pun memilih keluarganya dan meninggalkan Dawson. Ketika Amanda memilih keluarganya, salah satu anak Amanda mengalami kecelakaan dan membutuhkan donor jantung, dan di akhir cerita baru diketahui Dawson menjadi donor jantung anak Amanda karena Dawson  yang mengalami korban penembakan ternyata menjadi anggota donor organ.

Memang sebenarnya dari awal aku sudah diberitahu bahwa cerita tersebut berakhir dengan sad ending tetapi ketika aku membacanya, cerita ini menurutku berakhir dengan happy ending, anak Amanda selamat, kehidupan rumah tangga Amanda pun terselamatkan.

Dari cerita tersebut aku jadi tahu, cerita Happy Ending masing-masing orang itu berbeda. Tidak semua tokoh utama harus bersama, bisa saja mereka tetap menjadi teman baik maupun bisa menjadi partner ngobrol yang menyenangkan walaupun tidak terikat status pacaran.
Walaupun tak bersama dia bisa saja menjadi inspirasi untuk cerita-ceritamu..
Dia  bisa menjadi karakter fiksimu ketika kamu bingung menggambarkan tokoh utama.
Dia bisa menjadi karakter fiksimu ketika kamu bingung menuliskan salah satu adegan dan akhirnya kamu bisa menulis cerita tersebut dengan sempurna.
Dia bisa menjadi karakter fiksimu ketika kamu ingin menampilkan sisi romantis dari si tokoh utama.
Dia bisa menjadi karakter fiksimu ketika kamu sedang galau dan hendak menuliskannya dalam cerita.
Ya…dia bisa menjadi tokoh khayalanmu dengan nama yang berbeda-beda.
Tuh kan kenapa aku jadi terbawa galau ?? haduhh hahhahahaa sudah..sudah….
Menurut kalian cerita saya berakhir apa?

Happy Ending?






Comments

Popular posts from this blog

Kecaplah dan Lihatlah Betapa Baiknya Tuhan

Proyek Tulisan Renungan Berantai

Happy Birthday Ris :)