Tabur Tuai

Beberapa hari lalu, kantor saya didatangi klien 3 wanita, 2 klien berumur sekitar 40 tahun dan 50 tahun, sedangkan yang satunya berumur  77 tahun. Klien yang berumur 77 tahun, saya panggil dengan sebutan oma, setelah mengobrol agak lama, terungkaplah bahwa si oma kenal baik dengan almarhum Opa kandung saya yakni Opa Christoffel  Mooy yang dikenal dengan Opa To’e Mooy, Opa Adrianus Mooy, Oma Anna (almh), karena rasa haru ,saya dan oma saling cium hidung. Oma tidak menyangka saya cucu kandung Opa To’e (alm), bagi saya wajar karena tutur bahasa dan logat saya berbeda dengan orang Rote dan ditambah lagi dengan nama keluarga Rafael dimana fam ini tidak begitu familiar di kalangan orang Rote, jadi ketika oma menanyakan tentang asal saya, saya bilang kalau saya orang Rote juga, mama saya marga Mooy. Mendengar marga Mooy itulah oma pun bilang “ko nona siapanya Om Adri Mooy?” dan saya bilang saya cucunya, saya pun menambahkan kalo Opa kandung saya adalah Opa Christoffel Mooy, lalu oma melanjutkan “oooh om To’e yang dulu di Perkindo ko?” dan saya bilang iya. Oma pun bercerita lanjut tentang kebaikan-kebaikan opa, lalu berlanjut pada cerita tentang Oma Anna yang sebulan lalu meninggal. Cerita demi cerita pun bergulir sampai akhirnya oma bilang kalau sebenarnya kami masih keluarga, oma pun menasehati “nona, meskipun ketong semua basodara tapi bisnis tetap bisnis ya, keluarga ya keluarga, jadi jangan sampe karena sodara mempengaruhi harga akta, kalo harga akta segitu ya segitu, jang kasih turun..nona harus professional, nona hanya bantu memperlancar saja”. Mendengar nasehat oma, dalam hati saya berkata “oma pung kata-kata ni talalu babatu ee…”  lalu saya menjawab oma “iya oma…makasi oma ee…”. 


Jarang-jarang ada klien yang seperti oma, biasanya yang bukan keluarga pun masih tawar menawar untuk persoalam harga akta, padahal sesungguhnya mereka mampu membayar. Mereka beralasan saya adalah notaris baru jadi mereka meminta “harga pelanggan” dengan tuntutan ini dan itu. Tapi ya sudahlah masing-masing klien punya ceritanya tersendiri dan saya masih banyak belajar mempelajari kemauan klien untuk dituangkan dalam bentuk akta.


Bercerita tentang oma, saya jadi teringat tulisan yang pernah saya share di blog saya dua tahun lalu, bisa dibaca di http://ubieeva.blogspot.co.id/2013/10/keturunan-orang-benar.html

Melalui tulisan ini saya bersyukur kalau saya bisa menikmati tuaian kebaikan yang sudah ditabur oleh para pendahulu saya dan menjadi motivasi untuk menaburkan benih kebaikan supaya kelak anak cucu cicit dan keturunan saya kelak menuai hasilnya. 



                                                            Ba’a, 18 November 2015

Comments